Tagihan Listrik Naik Selama Pandemi ? Simak Penjelasannya

Banyak masyarakat Indonesia bahkan mungkin kawan-kawan warrior yang merasa tagihan listriknya naik selama masa pandemi virus Covid-19 ini. Kenapa sih ko bisa tagihan nya membengkak? Apa benar PLN melakukan subsidi silang terhadap masyarakat yang listriknya digratiskan, ataukah PLN mengambik untung dari adanya pandemi ini ? Disini saya akan coba menjelaskan apa yang menyebabkan selisih tagihan ini.

Banyak spekulasi yang berkembang dimasyarakat bahwa kenaikan listrik selama masa pandemi ini adalah kecurangan yang dilakukan PLN ataupun berspekulasi bahwa ini adalah subsidi silang untuk pelanggan 450 VA dan 900 VA subsidi yang mendapat diskon listrik. Tenang kawan, pertama yang akan saya jelaskan disini bahwasanya program gratis listrik untuk pelanggan daya 450 VA dan diskon 50% untuk pelanggan 900 VA subsidi adalah program pemerintah pusat, jadi dalam hal ini PLN hanya menjalankan kebijakan dari pemerintah pusat dan biaya listriknya tentunya dibayarkan dari APBN Pemerintah Pusat, bukan dari kas perusahaan. Nah terus kenapa tagihan listriknya bisa membengkak ya?

Nah perlu kawan ketahui bahwa sebenarnya tidak semua membengkak loh, ada beberapa pelanggan yang bahkan mengalami penurunan biaya tagihan listrik loh, jadi kenapa bisa ada selisih kenaikan atau penurunan tagihan listrik yang sangat tinggi bahkan bisa sampai 50-200 % dari tagihan biasanya?

Selisih biaya tagihan listrik yang membengkak ini adalah akibat dari adanya pandemi corona ini, jadi begini ceritanya saat pemberlakuan kebijakan PSBB dan social distancing di Indonesia akibat merebaknya virus Covid-19 ini, PLN mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan pembacaan meter kWh listrik ke rumah-rumah pelanggan sehingga PLN memberlakukan kebijakan bahwa penagihan tagihan listrik tidak dilakukan dengan pembacaan meter kWh listrik, tetapi dilakukan dengan merata-ratakan pemakaian pelanggan selama 3 bulan terakhir. Misalnya begini, Pak Tresna sebagai pelanggan listrik PLN mempunyai data historis tagihan listrik sebagai berikut :

  • Tagihan Listrik Januari (Pemakaian Desember) : 55 kWh
  • Tagihan Listrik Februari (Pemakaian Januari) : 50 kWh
  • Tagihan Listrik Maret (Pemakaian Februari) : 45 kWh

Nah pada bulan maret terjadi pandemi dan adanya social distancing sehingga PLN merata-ratakan pemakaian 3 bulan terakhir sehingga tagihan listrik bulan April (pemakaian Maret) yaitu rata rata 3 bulan terakhir yaitu 50 kWh, maka tagihan listrik yang ditagihkan kepada pelanggan sebesar 50 kWh, lalu tagihan listrik bulan Mei (Pemakaian April) karena belum bisa baca meter atau pelanggan tidak melakukan baca meter mandiri maka masih di rata-ratakan selama 3 bulan terakhir yaitu rata-rata bulan februari, maret dan april jadi rata ratanya adalah 48 kWh, sehingga tagihan listrik sebesar 48 kWh.

Nah karena selama pandemi ini Pak Tresna melakukan kegiatan WFH dan beberapa kegiatan lain yang dilakukan dirumah yang menyebabkan konsumsi listrik nya meningkat, misalnya pemakaian bulan Maret dan April itu sebenarnya 70 kWh setiap bulan sedangkan ditagihkan nya seperti terlihat diatas dibawah 70 kWh, sehingga ada kekurangan tagihan listrik. Saat dibaca meter atau pelanggan melakukan baca meter mandiri terlihat pemakaian listrik sebenarnya sehingga untuk tagihan bulan Juni (Pemakaian Mei) kekurangannya akan ditambahkan ke tagihan bulan tersebut, sehingga bisa dirincikan sebagai berikut :

  • Kurang Tagih bulan April (Pemakaian Maret) :70 – 50 = 20 kWh
  • Kurang Tagih bulan Mei (Pemakaian April) : 70 – 48 = 22 kWh
  • Tagihan Bulan Juni (Pemakaian Mei) = 70 kWh
  • Maka total yang ditagihkan bulan juni adalah penjumlahan pemakaian dan kekurangan tagihan yaitu sebesar 112 kWh.

Sehingga pelanggan yang biasanya membayar 50 kWh, melonjak hingga 112 kWh, lebih dari 50 % tagihan biasanya sehingga pelanggan merasa kaget. Nah sebenarnya skema nya seperti itu. Hal tersebut bisa terjadi pula penagihan yang berlebih karena misalnya selama proses perata-rataan tagihan listrik itu sebenarnya tagihan kita berkurang, maka tagihan saat sudah diketahui kelebihannya akan di kurangi dengan tagihan saat itu.

Misalnya memakai tagihan 3 bulan terakhir yang sama seperti skema diatas, lalu pemakaian sebenarnya pelanggan bulan Maret dan April itu hanya 40 kWh, sehingga ada lebih tagihan maka skemanya :

  • Tagihan bulan Juni (Pemakaian Mei) : 40 kWh
  • Kelebihan Tagihan bulan April (Pemakaian Maret) :50 – 40 = 10 kWh
  • Kelebihan Tagihan bulan Mei (Pemakaian April) : 48 – 40 = 8 kWh
  • Maka total yang ditagihkan bulan juni adalah pengurangan pemakaian dan kelebihan tagihan yaitu sebesar 22 kWh.
Sumber : Instagram PLN Distribusi Jawa Timur @plndistribusijatim

Nah karena itulah terjadi selisih tagihan yang meningkat atau bahkan menurun selama masa pandemi covid-19 ini.

Nah selain proses perata-rataan yang rentang terjadi selisih tagihan, pelanggan sebenarnya bisa melakukan baca meter mandiri yang dilakukan oleh pelanggan dengan cara seperti ini :

  1. Foto nomor kWh meter pascabayar anda
  2. Dengan Aplikasi WhatsApp anda mengirimkan pesan ke nomor 08122 123 123
  3. Ketik 2 untuk lapor pemakaian listrik pascabayar anda
  4. Selanjutnya ikuti langkah-langkah yang akan diberikan dan intinya anda akan diminta untuk mengirimkan foto nomor kWh meter pascabayar anda

Nah cara tersebut dapat mempermudah petugas yang kesulitan melakukan baca meter dan menghindarkan anda dari selisih pembayaran listrik anda.

Skema pembayaran bagi yang Kelebihan Bayar

Nah bagi anda yang mengalami kenaikan tagihan listrik yang tinggi diatas 20 % dari pemakaian biasanya, PLN mempunyai kebijakan untuk meringankan anda dalam membayar tagihan listrik yang dinamakan perlindungan lonjakan tagihan listrik, skemanya adalah pelanggan hanya perlu membayar tagihan listrik sebesar tagihan bulan lalu dengan ditambah 40 % kenaikan bulan ini, sisa 60 % tagihan akan dibayarkan secara berangsung selama 3 bulan kedepan.

Ilustrasinya begini, misalnya tagihan listrik pelanggan bulan April Rp. 900.000,-, bulan Mei Rp. 1.000.000,- , tagihan bulan juni naik sebesar Rp. 1.500.000,- atau mengalami kenaikan sebesar 50 % dari bulan lalu. Karena lonjakan nya sudah melebihi 20 % maka pelanggan memenuhi syarat mendapatkan perlindungan lonjakan dari PLN, maka pelanggan hanya perlu membayar sebesar 1 Juta ditambah 40 % tagihan bulan ini yaitu lonjakan 500.000, 40 % nya adalah 200.000, sehingga tagihannya sebesar Rp. 1.200.000,-. Sisa tagihan lonjakan sebesar Rp. 300.000,- akan ditagihkan 3 bulan selanjutnya dengan diangsur setiap bulan sebesar Rp. 100.000,-/bulan. Untuk penjelasan lengkapnya simak video di slide kedua dari Instagram PLN berikut ini :

Instagram PLN (@pln_id)

Semoga penjelasan ini bisa lebih memahami selisih ini ya, Terimakasih.

Artikel Terkait

Latest posts by Ramdan Febriana (see all)